Kultum: Globalisasi Rokok Di Kalangan Pelajar


Usia remaja merupakan fasa yang paling sensitif kepada permulaan tingkah laku merokok. Perubahan demi perubahan dalam diri remaja bersama transisi zaman kanak-kanak ke alam dewasa membawa kepada pelbagai keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru termasuk merokok. Penggunaan rokok dalam usia remaja dilihat sebagai tingkah laku untuk bereksperimen sebelum remaja tersebut kekal menjadi perokok apabila dewasa.

Resiko para generasi bangsa untuk kekal menjadi perokok bermula dengan percobaan pertamanya. Remaja yang mencoba untuk merokok akan lebih cenderung untuk terus merokok sehingga dewasa, berbeda dengan remaja yang tidak mencoba. Ini kerana, nikotin bisa membawa kepada sindrom ketagihan yang sama dengan ketagihan heroin dan kokain. Jika dilihat, sangat sedikit remaja yang berjaya meninggalkan kebiasaan merokok apabila mereka telah mulai merokok. Disebabkan inilah kita akan menemukan sedikit perokok yang mulai merokok di usia dewasa.

Terdapat tiga peringkat yang membawa kepada ketagihan nikotin di kalangan remaja. Peringkat-peringkat tersebut ialah permulaan (initiation), penggunaan bermasalah (problem use) dan ketergantungan (dependency). Peringkat yang pertama yaitu permulaan, merujuk kepada faktor-faktor yang mempengaruhi dan mendorong remaja untuk merokok. Faktor-faktornya meliputi tahap pendidikan yang rendah, terdapat perokok di kalangan ahli keluarga, orang tua atau saudara kandung maupun bukan dan terdapat perokok di kalangan remaja setempat. Pada peringkat permulaan, remaja yang merokok ingin dianggap sebagai seorang yang berdikari dan bebas untuk melakukan apa yang disukai.

Banyak isu-isu yang memainkan peranan apabila terdapat remaja perempuan yang percaya dengan merokok mereka dapat kekal langsing. Pengaruh media, artis dan film juga berpengaruh dalam peringkat pertama ini. Remaja akan terdorong untuk merokok, apabila media menggambarkan tingkah laku tersebut sebagai satu tingkah laku yang bergaya dan sebagai ekspresi penentangan jiwa mereka. Peringkat permulaan merokok ini kemudiannya akan membawa kepada peringkat ketagihan, apabila remaja merasakan merokok dapat memberi kelegaan dan menenangkan diri mereka.

Peringkat kedua, yaitu penggunaan bermasalah merujuk kepada keadaan remaja yang akan merokok apabila mereka nongkrong atau ketika mereka bosan dan gelisah. Lama-kelamaan, tingkah laku merokok ini terus akan menjadi kebiasaan yang tidak dapat dibuang. Peringkat ketergantungan bermula apabila remaja yang merokok merasakan tingkah laku tersebut sebagai suatu jalan keluar dari masalah-masalahnya. Namun begitu, akhirnya nikotin bertindak sebagai cara untuk remaja berhadapan dengan tekanan dan masalah sehari-hari. Apabila berada di peringkat ini, remaja sebenarnya sudah mengalami ketagihan nikotin, yang menyebabkan mereka berasa tidak selesa dan murung sekiranya mereka tidak merokok.

Untuk itulah, keluarga dan teman berada dalam kategori utama yang bisa mempengaruhi tingkah laku remaja seperti merokok. Remaja yang merokok mungkin berasa lebih yakin dengan diri mereka atau merasa lebih disukai oleh orang lain disebabkan oleh tingkah laku tersebut. Lalu ia membawa kepada kecenderungan untuk mempunyai tingkah laku yang sama di kalangan remaja dalam satu kumpulan.

Proses sosialisasi mempengaruhi pembentukan tingkah laku dan personaliti remaja. Proses ini membolehkan seseorang itu mengenal diri sendiri dan mempelajari apa yang dipercayai oleh orang lain di sekelilingnya, dan mempelajari bagaimanakah cara bertingkah laku yang sesuai (Musgrave, 1988). Melalui proses inilah, individu belajar tentang nilai dan norma dalam budaya dan kehidupan. Individu akan terdorong untuk mengikuti perkara-perkara yang dianjurkan oleh budaya masyarakat di sekeilingnya. Sosialisasi juga membolehkan individu mengenal dirinya dan belajar menempatkan dirinya dalam masyarakat.

Keluarga dan teman merupakan dua kumpulan agen sosialisasi terpenting selain sekolah dan media. Sebagai agen sosialisasi, keluarga dan teman memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk tingkah laku dan kebiasaan seorang remaja. Keluarga merupakan agen sosialisasi utama bermula dari awal kelahiran sehingga ia tumbuh dewasa. Apabila ia meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki masa remaja, pengaruh ibu bapa sebagai agen sosialisasi mulai diambil alih oleh peranan teman-teman. Teman akan menjadi tempat untuk remaja berinteraksi sosial dan mengatasi ketakutan, kekeliruan dan masalah. Selain itu, teman menjadi tempat untuk remaja bersama-sama mencoba untuk keluar dari aturan orang tua.

Terdapat banyak penalitian yang menyatakan hubungan antara tingkah laku merokok dengan faktor keluarga. Tingkah laku merokok di kalangan kakak kandung yang lebih tua mendorong remaja untuk ikut  merokok. Sebagai agen sosialisasi utama, tingkah laku keluarga terutama ibu dan bapak menjadi contoh dan ikutan oleh anak-anak. Ibu atau bapa yang merokok memberi gambaran awal kepada anak-anak bahawa tingkah laku tersebut adalah sebahagian daripada norma yang biasa dalam keluarga. Apabila tingkah laku tersebut dilihat sebagai norma dan kebiasaan, maka anak-anak akan menjadi lebih cenderung untuk turut serta.

Tingkah laku merokok di kalangan remaja juga membuat remaja merasa memperoleh kebebasan dan autonomi. Tekanan lain yang turut dihadapi oleh remaja agar menghisap rokok juga berlaku secara langsung. Remaja sering berhadapan dengan kerabat yang akan menggalakkan mereka agar mencoba merokok. Remaja mungkin akan dipaksa dan juga diusik sekiranya enggan berbuat demikian. Kedua agen ini memainkan peranan yang amat besar dalam membentuk tingkah laku dan tabiat merokok di kalangan remaja. Remaja bukanlah satu entiti yang jauh dengan kedua agen ini, sebaliknya ia saling mempengaruhi.

Seseorang yang telah membentuk tabiat merokok pada usia yang muda akan mempunyai tingkat ketagihan nikotin yang cenderung lebih tinggi berbanding dengan mereka yang bermula merokok pada usia yang lebih tua. Tingkah laku merokok yang sudah menjadi kebiasaan di kalangan remaja akan membawa kepada masalah kesehatan dimasa mudanya hingga dewasa. Kebiasaan merokok pada usia remaja akan mengurangi kadar paru-paru untuk berfungsi  maksimum. Remaja yang merokok juga mempunyai kadar kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja yang tidak merokok. Tahap kecerdasan seorang perokok itu tergantung dengan jangka masa dan kekerapan merokok. Remaja yang merokok akan sering mengalami sesak nafas, batuk, pitam, berkahak dan secara keseluruhannya mempunyai tahap kesehatan yang rendah.

Ibu, bapak dan keluarga perlu menyadari keunggulan jiwa dan kekuatan remaja untuk tidak terlibat dengan rokok, sangat bergantung dengan pendekatan dan tingkah laku sehari-hari keluarga di rumah. Dan perkara ini bermula dari pendidikan internal rumah. Keluarga perlu mempunyai maklumat dan kesadaran tentang bahaya merokok dan melihat tingkah laku tersebut lebih daripada perspektif budaya dan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s