Kultum: Ketenangan Hati Adalah Kebahagiaan


jiwasakinah

Sebahagian besar daripada kecemasan jiwa yang menimpa manusia adalah disebabkan permainan fikiran yang sentiasa khuatir jika dirinya ditimpa oleh kejadian-kejadian buruk atau perkara-perkara yang tidak diingininya. Padahal apa yang difikirkannya itu belum tentu akan terjadi pada dirinya.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

“Tenangkanlah jiwamu daripada urusan kepentingan dunia, kerana segala sesuatu yang sudah dijanjikan oleh Allah, janganlah engkau turut memikirkannya.”

Perkara seperti ini biasanya dirasakan oleh orang-orang yang kurang bertawakal (berserah diri) kepada Allah dan tidak mengamalkan firman-Nya yang bermaksud :

“Barangsiapa yang berserah diri (tawakal) kepada Allah, nescaya Dia akan memenuhi keperluannya.” (Surah At-Thalaq : 3)

Firman Allah di atas di perkuat lagi dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

“Seandainya kamu semua bertawakal sepenuhnya kepada Allah, nescaya kamu akan memperolehi rezeki bagaikan rezeki burung-burung yang pada waktu pagi berkeadaan lapar dan kembali ke sarangnya (di waktu petang) dengan perut kenyang.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Jika kita mahu berpegang teguh kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya sebagaimana yang sudah kita nukilkan di atas, nescaya jiwa kita akan merasa tenang dan tenteram. Ketenangan dan ketenteraman jiwa ini akan mendatangkan kebahagiaan, baik di dunia mahupun di akhirat kelak.

Hati yang tenang dan tenteram dapat membentuk tindak-tanduk yang cemerlang dan sempurna. Bagaimana jiwa yang kusut dapat membuat keputusan yang bijak dan mengurus kehidupan dengan teratur?

Selain itu juga, terdapat beberapa ayat Allah dan sabda Rasul-Nya yang patut kita renungkan, supaya tercapai ketenteraman dan ketenangan jiwa yang kita harapkan. Antara lain firman-Nya yang bermaksud :

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah (berzikir) kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya dan pujilah (bertasbih) kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Surah Al-Ahzab : 41-42)

Firman-Nya lagi, yang berbunyi :

“Dan sembahlah Tuhanmu, hingga datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Surah Al-Hijr : 99)

Firman-Nya lagi, yang bermaksud :

“Dan tiada satu haiwan melatapun di permukaan bumi, melainkan rezekinya ditanggung oleh Allah.” (Surah Hud : 6)

Dalam ayat lain, Allah berfirman :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan kesenangan dan permainan (sementara) dan sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat, andainya mereka mengetahui.” (Surah Al-Ankabut : 64)

Perhatikan pula firman-Nya yang bermaksud :

“Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain di samping Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan kepada-Nyalah kamu semua dikembalikan.” (Surah Qasas : 88)

Firman-Nya lagi :

“Dan (ingatlah) sesiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah memudahkan baginya segala urusannya.” (Surah At-Talaaq : 4)

Selanjutnya, marilah kita perhatikan pula firman-Nya yang berbunyi :

“Tidak ada kesusahan yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu, dan tidak juga bergembira dengan apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.” (Surah Al-Hadid : 22-23)

Begitu besar kasih dan sayang Allah kepada hamba-Nya dan cinta Rasul kepada ummahnya, yang memberikan petunjuk untuk kebahagiaan hidup manusia. Namun semuanya itu bergantung kepada kita sendiri, apakah kita mahu mengikuti petunjuk-petunjuk itu atau hendak mengabaikannya.

Untuk lebih jelas lagi mengenai pengertian tawakal, Rasulullah SAW didatangi orang Badawi dan berkata,

“Bolehkah saya melepaskan unta saya, lalu saya bertawakal kepada Allah, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Tambatlah unta itu, lalu engkau bertawakal kepada Allah” (Al-Hadis).

Daripada penjelasan di atas maka bolehlah kita mengambil satu rumusan bahawa segala bentuk urusan atau pekerjaan yang dihadapi hendaklah berusaha terlebih dulu sebelum bertawakal kepada Allah SWT.

Sebagai manusia yang inginkan kejayaan dan kesejahteraan hidup, haruslah berusaha dan bekerja dengan tekun. Lantaran kesempurnaan hidup (di dunia dan di akhirat) tidak akan tercapai apabila ada sikap malas. Islam sama sekali tidak menghendaki umat-Nya menganggur dan berpeluk tubuh, hanya berserah buta kepada Allah SWT.

Tawakal mesti didahului dengan ikhtiar.

Jangan mengharapkan cinta Allah, kalau masih sukar taat.
Jangan mengharapkan redha Allah, kalau masih derhaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s