Kultum: The Story of Tadarrus Among Ramadhan


Mungkin tidak ada kitab / bacaan yang dibaca begitu masif di bulan ini, melebihi al-Qur’ân. Kitab suci kita, yang untuk kali pertama turun juga di Bulan Ramadhan.Al-Qur’ân dibaca di masjid-masjid, di langgar atau mushalla, bahkan di perkantoran yang memungkinkan dilakukan kegiatan itu. Darusan, begitu istilah kita, untuk kegiatan membaca al-Qur’ân secara tarlil, dan biasanya dikelilingi beberapa orang yang menyimak sambil menyantap puluran (makanan kecil) yang disediakan para simpatisan.

Ini juga yang telah dilakukan oleh para leluhur kita sejak masa Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Bedanya barangkali, kalau dulu tidak pakai corong (pengeras suara) sehingga pendengarnya lebih terbatas, dan hanya mereka yang betul-betul mau saja yang menjadi pendengarnya. Selain itu suara tidak bisa dimanipulasi, yang merdu enak di telinga, yang fals pendengarnya mesti lebih bersabar. Kalau sekarang, tidak banyak majelis darusan yang tidak menggunakan pengeras suara, jadi mau tidak mau pendengarnya menjadi lebih banyak. Menjadi pendengar yang sukarela (ikhlas), maupun terpaksa. Demi dakwah, Men…

Ada dua hal yang menggelitik saya tentang bacaan agung ini. Pertama, sejarah membuktikan daya tahan al-Qur’ân terhadap masa / zaman. Bayangkan 14 abad lebih dengan pengucapan yang nyaris konstan! Tanya kenapa? Kedua, al-Qur’ân yang telah menjadi inspirasi utama kaum Muslim seringkali melahirkan manusia-manusia yang membangun peradaban dengan cara-cara yang sangat mengagumkan, namun terkadang, lahir pula dari pembaca al-Qur’ân para penghancur peradaban yang tak kalah mengerikan. Lalu kita bagian dari yang mana?

Bacaan Abadi

Kaum Muslim boleh berbeda manhaj maupun mazhab dalam berislam, bahkan apapun anggapan kita tentang al-Qur’ân, kita tetap satu dalam keyakinan, bahwa al-Qur’ân adalah firman Allah Swt. untuk Nabi Muhammad Saw. sebagai petunjuk bagi manusia menjalani hidup di dunia ini.

Ada dua hal yang membuat al-Qur’ân ini menjadi bacaan abadi, yaitu format dan muatan. Sudah banyak yang mafhum, format bahasa al-Qur’ân memiliki nilai estetika / sastra yang tinggi, sekalipun mesti diingat, estetika bukanlah tujuan utama dari turunnya al-Qur’ân. Musuh-musuh Islam pun mengakui keindahan al-Qur’ân ini, kesaksian al-Walîd bin Mughîrah;

“Sumpah demi Tuhan! Tidak seorangpun dari kalian yang lebih paham syair-syair arab lebih baik dariku. Tapi, yang dibacakan Muhammad bukanlah syair. Ada keindahan dan kesegaran yang terkandung di dalamnya. Pembukaannya begitu manis dan penutupnya begitu kaya. Ia yang terbaik, tidak ada yang mengalahkannya. Tiada seorangpun yang bisa membuat tandingannya.”

Hikmah Ilahiah menghendaki kejahiliaan Arab saat itu tidak terjadi pada bidang sastra. Boleh dibilang menjelang turunnya al-Qur’ân sastra Arab berada pada puncak perkembangannya. Itulah sebabnya terkadang para sahabat mencari referensi pada puisi-puisi pra-Islam untuk mengetahui suatu makna kata dalam al-Qur’ân.

Permasalahannya bagi yang tidak ahli sastra arab macam kita, atau non-Arab (a’jam) pada umumnya, format keindahan ini menjadi kurang terasa, atau bahkan tidak terasa sama sekali. Nah, muatan atau pesan al-Qur’an inilah yang sangat terasa dan sarat makna, sehingga seringkali kita mengutipnya. Pesan atau muatan al-Qur’ân inilah yang tidak pernah usang karena dua hal; 1) keserasian antara pesan al-Qur’ân dengan fitrah manusia, 2) kepercayaan pada akal murni dalam memberikan keputusan dan menyelesaikan kasus-kasus konflik.

al-Qur’ân dan Para Pembacannya

Derasnya arus informasi dan kemudahan yang telah diberikan teknologi saat ini telah membuat kita banyak tahu hal. Doktrin-doktrin yang dulu kita terima apa adanya, ternyata masih banyak yang mempertanyakan keabsahannya. Islam yang kita fahami, ternyata bukan satu-satunya yang ada di dunia. Keragaman ini seringkali saling melengkapi, namun terkadang juga saling menghancurkan.

Kali ini saya tidak akan membahas tentang al-Qur’ân dengan multi tafsirnya (tema ini pernah saya singgung pada “Tafsir: Muhkan dan Mutasyâbihat,” di buletin ini juga), tapi bagaimana respon umat dalam membaca firman suci ini. Karena respon kita akan firman ini pun adalah bagian dari iman.

Setiap kali kita menyebut tokoh Muslim dengan karyanya, maka merekalah yang telah memberikan sumbangsih bagi peradaban. Dan bisa dipastikan al-Qur’ân menjadi inspirasi luhur mereka. Namun tidak bisa dipungkiri, ada sebagian dari pembaca al-Qur’ân yang justru yang bersikap sebaliknya.

Beberapa minggu yang lalu di layar tv saya melihat sekelompok orang memasuki sebuah gedung yang sedang mengadakan pentas kesenian, tanpa diundang. Beberapa orang langsung naik ke pentas sambil mengangkat al-Qur’ân, membuat panitia gelagapan tak berdaya. Seorang menggambil microphone dan segera berpidato, menyerukan agar semua yang hadir di gedung itu ingat akhirat dan jangan berbuat maksiat di dunia.

Panitia sepertinya tidak berdaya, terlebih melihat pengawal yang berpidato itu menutup semua kepalanya kecuali mata, seperti ninja. Saya menduga, mayoritas yang hadir di gedung itu juga beragama Islam. Kemungkinan pidato dadakan itupun tidak menyentuh hati orang-orang yang hadir.

Di tahun 80-an Sedayu Gresik geger. Komplek pemakaman Kajeng Sepuh -perintis masuknya Islam sekaligus leluhur warga setempat- porak-poranda, menyisakan satu pusara, makan Kanjeng Sepuh sendiri. Seorang pemuda yang dikenal aktif dalam diskusi keislaman harus bertanggung jawab. Atas nama al-Qur’ân juga ia beralasan melaksanakan aksinya.

Menyerbarnya faham Wahabi ke jantung dua kota suci umat Islam (Makah dan Madinah) juga berdampak pada musnahnya beberapa situs sejarah umat Islam. Tak urung salah satu alasan berdirinya NU (Nahdhatul Ulama) juga peristiwa ini. Sudah pasti karena membaca al-Qur’ân juga para penganut Wahabi ini melancarkan aksinya.

Tahun 1009 terjadi huru-hara di Kordoba, ibukota Umayyah Andalusia (Spanyol). Banyak yang menyangkan hancurnya istana Madinah al-Zahrah -yang merupakan salah satu simbol keindahan arsitektur dunia saat itu- di tangan pasukan salib. Padahal hancur leburnya Madinah al-Zahrah itu di tangan kaum Murabitun -Muslim juga- yang datang dari Barber, Afrika Utara. Nanti orang-orang Kristen pun ambil bagian sebagai penutupnya.

* * *

Barangkali data-data di atas masih debatable, marilah kita berziarah ke sejarah awal Islam yang relatif disepakati. Perang Hunain, antara kaum Muslim melawan Suku Hawazin baru selesai. Pada saat pembagian rampasan perang, seorang pemuda berteriak, “Muhammad, berlaku adillah! Anda tidak adil!” Dua kali kata-kata itu diulang, tetapi Rasulullah Saw. tidak menghiraukannya. Ketika diulang yang ketiga kalinya, dengan wajah gusar beliau Saw. menjawab, “Siapa lagi yang akan berlaku adil, jika saya tidak adil.” Beberapa sahabat di sekitar Nabi Saw. akan menampar atau mau membunuhnya, tetapi Rasulullah Saw. melarangnya.

Pemuda itu bernama Dzuts Tsudayyah, bukan jenis pemuda urakan atau ugal-ugalan, hari-harinya disibukkan beribadah, tentu saja membaca al-Qur’an salah satunya. Mungkin karena rajin membaca al-Qur’an, ia merasa berhak untuk menegur Nabi Saw., yang kepada siapa firman ini diturunkan.

Sejarahwan tidak mencatat kiprah pemuda ini, baru di zaman Imam Ali Kw. pemuda ini muncul lagi. Dzuts Tsudayyah muncul di Nahrawan di antara kaum Khawarij yang mayoritas adalah kaum qurra‘ (pembaca al-Qur’ân) yang mempunyai semboyan, “hukma ilâ ‘l-Lâh (tidak ada hukum, selain hukum Allah).” Yang mencengangkan dari catatan sejarahwan, mayoritas kaum Khawarij di Nahrawan mengenakan atribut pakaian yang menutup seluruh anggota badan kecuali mata. Juga yang paling getol mengutip ayat al-Qur’an sebagai jargonnya, melebihi Imam Ali Kw. yang salah satu gelarnya adalah gerbangnya ilmu. Mohon maaf! Coba bandingkan aksi-aksi terakhir.

Dzuts Tsudayyah tidak diragukan seorang yang rajin beribadah dan membaca al-Qur’an. Bahkan sempat beberapakali ia hadir dalam majelis ilmu Imam Ali Kw. Sayangnya untuk mereka yang merespon firman Allah Swt. seperti itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Yaqraûn-a ‘l-qur’ân-a lâ yujâwiz-u tarâqiyahum (mereka membaca al-Qur’ân tak sampai melampaui tulang selangka mereka).” Dan untuk slogan-slogannya Imam Ali Kw. berkomentar, “Kalimat-u haqq-i yurâd-u bihâ ‘l-bâtil-a. Allâh-u akbar!” (Allah Mahabesar! Ungkapan kebenaran digunakan untuk kebatilan). Nah, kita sebagai pelanjut karakter dan akhlaq Imam Ali Kw., atau Dzuts Tsudayyah?

‘Abid Jâbiri berpendapat, sebenarnya gerakan ekstrem itu merupakan protes dari keadaannya yang paling dekat. Ekstrem Islam, sebenarnya bukanlah musuh dari ekstrim lain di luar Islam, tapi pada dasarnya merupakan protes pada umat Islam sendiri.

Setelah darusan sejarah ini, ada baiknya kita belajar protes sesama kaum Muslim dengan cara sebaik-baiknya. Jika dengan non-Muslim saja Allah Swt. menyuruh dengan cara yang baik, bagaimana lagi dengan yang sesama Muslim.

Inilah mungkin yang menyebabkan perintah persatuan (bukan penyatuan) dan amal ma’ruf nahi munkar seringkali diikuti perintah untuk bersabar. Wa’l-Lâh-u a’lam-u bi ‘sh-shawâb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s